Ayam rakus dan Manusia rakus
Sebagai seorang peternak saya sering kali memberi makan ayam-ayam yang menjadi tanggung jawab saya. Saya sering berpikir dan merenung setiap memberi makan ayam-ayam tersebut. Ayam-ayam tersebut selalu berebut makan dengan sesamanya. Tidak jarang mereka saling tindih, saling menyingkirkan, saling mematuk, saling injak demi mendapatkan makanan. Ayam-ayam terlihat sangat rakus sekali, dan tidak mau memikirkan ayam yang lain.
Namun jika kita perhatikan kejadian saling rebut tersebut biasanya tidak berlangsung lama. Ayam-ayam tersebut hanya saling rebut hingga sepenuh perut mereka. Begitu sudah kenyang mereka pun menyingkir ke pinggir dan bergantian dengan ayam-ayam yang lain. Ternyata serakus-rakusnya ayam, itu hanya sebatas perut kenyangnya perut mereka saja tidak lebih.
Lain hal nya dengan manusia, jika manusia sudah rakus maka segala semuanya diambil, manusia tidak hanya mengisi hingga sepenuh perut mereka, namun juga menimbun untuk keperluan mereka besok dan seterusnya. Manusia juga menumpuk-numpuk harta untuk keturunan-keturunan mereka. Tak kadang manusia juga mengambil apa yang bukan hak-nya.
Tidak sadarkah manusia yang rakus, yang dinamakan rejeki adalah apa-apa yang mereka makan, pakaian yang mereka pakai hingga lusuh, dan apa-apa yang mereka sedekahkan. Selebihnya tidak akan dinikmati oleh manusia. Tidak ada gunanya menumpuk-numpuk harta. Harta tidak akan dibawa mati, bahkan bisa jadi harta tersebut malah akan menjadi beban saat hari penghisaban tiba.
Wallahu ‘alam
iya kadang ya itu ya kalau sifat rakusnya udah muncul udah kenyang pun masih ganyang aja ckckck akhirnya karena over malah jadi mual dan muntah jadi kebuang juga kan ya
manusia terkadang lupa bersyukur jadi selalu rebutan, semoga kita tidak seperti itu ya
jadi sebenernya yang lebih rakus?
ah, teguran manis nih buat yang baca,., jangan sampe kita jadi termasuk golongan makhluk rakus deh
Mudah2an kita ga ‘kalah’ sama ayam ya mas, berhenti saat sudah ‘cukup’
Tidak semua yang kita punya bisa kita nikmati sendiri