Home > renungan > Antara aku, Jumoyo, dan Geger Kalong

Antara aku, Jumoyo, dan Geger Kalong

Kita semua mungkin pernah gagal, kata orang kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Akan tetapi tidak semua orang menyikapi kegagalan dengan seperti itu sehingga tak jarang berujung stres dan frustasi. Seperti contoh dibawah ini yaitu antara aku (Mas Jier), jumoyo dan geger kalong. Kita bertiga pernah sama – sama gagal masuk menjadi anggota TNI tetapi jalan hidup setelah kegagalan tersebut berbeda-beda. Hal ini dikarenakan sikap dan tanggapan atas kegagalan tersebut berbeda – beda.

Jumoyo (nama samaran) seorang yang sangat terobsesi untuk bisa menjadi anggota TNI. Beliau sempat gagal pada pendaftaran yang pertama, beliau mencoba untuk kali yang kedua, ketiga, keempat dan kelima pada tahun tahun berikunya namun tetap saja gagal masuk. Hingga akhirnya dia sudah tidak bisa lagi mendaftar karena telah melebihi batas usia maksimal. Namun sunngguh sangat disayangkan beliau kurang bisa menerima kenyataan tersebut hingga akhirnya beliau stres dan frustasi.

Geger kalong (nama samaran) seorang yang lahir dari keluarga TNI karena ayahnya adalah anggota TNI. Awalnya beliau berniat mengikuti jejak sang ayah menjadi anggota TNI akan tetapi gagal dan beliau menerima dengan lapang dada. Akhirnya beliau justru menjadi seorang ulama yng terkenal di Indonesia. Selain itu beliau bersama rekan – rekannya mendiri bisnis dan juga mampu mendirikan stasiun televisi dan stasiun radio. Beliau berhasil menemukan hikmah dibalik kegagalan.

Dan yang ketiga adalah saya, saya yang lahir dari keluarga petani. Saya ketuka di SMK mengambil program keahlian peternakan hingga akhirnya lulus dan setelah lulus diterima kerja di peternakan ayam di Bandung. Namun dua tahun berselang timbul keinginan untuk mendaftar menjadi anggota TNI. Hingga akhirnya saya gagal ketika tes di Semarang. Setelah kegagalan tersebut saya kembali menekuni bidang saya yaitu kembali bekerja di peternakan ayam di Bandung hingga sekarang.

Dari ketiga orang tersebut terlihat bahwa sikap seseorang dalam menanggapi kegagalan itu berbeda – beda. Dan karena perbedaan sikap itulah jalan hidup selanjutnya dari masing – masing orang juga berbeda.

Wallahu a’lam

Categories: renungan Tags: , , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Silahkan tulis komentar sahabat

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: