Home > opini > Belajar untuk apa?

Belajar untuk apa?

Kemarin saya lihat berita di TV katanya “Para orang tua murid SDN Gadel II Surabaya keberatan jika harus diadakan ujian ulang karena anak – anak belum belajar”. Saya jadi bertanya dalam hati. Emang belajar untuk apa? Apakah belajar hanya untuk bisa menjawab soal ujian? Apakah belajar hanya untuk mendapat nilai bagus dan lulus? Apakah belajar hanya untuk mendapat ranking?
Mungkin seperti itulah tolok ukur pendidikan di Indonesia. Mereka belajar bukan karena ingin paham. Mereka belajar bukan karena agar mereka bisa menjadi ahli. Tetapi hanya demi sebuah kebanggaan semu dalam bentuk nilai dan ranking. Maka tak heran banyak pejabat bergelar S2 atau Doktor mereka tidak mampu menyelesaikan persoalan bangsa. 

Waktu saya masih sekolah dulu, sering banyak murid yang protes jika guru datang dan langsung bilang “Oke anak – anak, siapkan alat tulis kalian hari ada ulangan” tanpa memberi tahu pada hari sebelumnya. Kebanyakan murid akan bilang begini “wah jangan donk pak, kita semalam belum siap – siap belajar nih. Mustinya kasih tahu dulu donk pak kalau hari ini mau ada ulangan jadi kita bisa siap – siap”.  
Jika ujian semester atau ujian akhir tiba, rame – rame tuch murid menggelar acara “wayangan”. Semalaman mereka belajar, kesana kemari bawa buku. Diajak maen bola nggak mau, katanya lagi mau belajar. Diajak sholat berjamaah juga nggak mau katanya “aku sholat di rumah aja deh, selama bolak – balik ke masjid kan waktunya bisa digunain buat belajar. Pagi hari menjelang ujian dimulai mereka duduk berjejer di depan ruang ujian, masih membawa buku dan menghafal. Emang selama ini kalian kemana aja, belajar sampai terus – terusan gitu? Jika ujian berakhir mereka rame – rame teriak akhirnya kita bebas, wah lega rasanya udah melewati ujian. Setelah itu, tak ada yang belajar. Buku – buku tergolek lesu di rak – raknya masing – masing, sampai berdebu karena tak pernah disentuh. Nggak lama kemudian nasib buku – buku itu berakhir di pembeli kertas kiloan.
Ternyata cara belajar seperti itu banyak berlaku di indonesia. Belajar dengan cara “wayangan”. Dengan cara belajar seperti itu,  ilmu yang dipelajari hanya sekedar numpang lewat. Mungkin saat ujian mereka bisa menjawab soal dan dapat nilai bagus. Tapi coba tanpa ada pemberitahuan, pada bulan berikutnya mereka disuruh mengerjakan soal yang sama belum tentu mereka bisa.
Menurut saya belajar yang baik itu ya belajar yang rutin dan teratur serta kontinyu. mau ada ujian atau enggak, udah lulus maupun belum lulus,  belajar itu tetep perlu dilakukan.  otak kita akan lebih mudah menyerap ilmu jika dimasukkan sedikit demi sedikit. Dengan belajar teratur kita bisa memberi waktu otak untuk menganalisa apa yang kita pelajari. Dengan begitu kita bisa belajar mengatasi masalah yang terjadi di dunia ini. Bukan sekedar bisa menjawab soal saat ujian.
Beberapa murid yang saya kenal justru tidak belajar jika akan mengahadapi ujian nasional. Mereka telah belajar secara teratur sebelum ujian tiba. Mereka lebih memilih tidur lebih awal biar besok pagi badan lebih segar, nggak ngantuk dan siap mengerjakan soal dengan baik. Mereka juga tetap rajin berolahraga biar peredaran darah lebih lancar dan nggak gampang pusing.
Mereka juga tetep rajin ke masjid sholat berjamaah. Mereka rajin berdoa, tetapi doa mereka bukan minta agar dapat niai bagus atau biar lulus. Mereka meminta hasil yang terbaik agi mereka. Mereka berpandangan bahwa belum tentu nilai tinggi itu baik bagi mereka, siapa tahu hal itu justru membuat mereka sombong dan malas belajar, belum tentu juga nilai yang rendah itu jelek bagi mereka, siapa tahu hal itu justru membuat mereka instrospeksi dan belajar lebih teratur dan lebih rajin lagi. 
Mereka telah berusaha dengan sebaik – baiknya dan mereka serahkan keputusan kepada Yang Maha Kuasa. Intinya mereka berdoa meminta yang terbaik baginya. Mau nilai bagus, mau nilai jelek, mau lulus atau enggak siapa tahu itulah yang terbaik bagi mereka. Tentu Tuhanlah yang lebih tahu.
Mungkin bukan bidang saya untuk bicara tentang pendidikan karena bidang saya peternakan, jadi maaf bila ada salah – salah kata dan ada yang tidak berkenan. Mohon koreksinya.
Categories: opini
  1. June 17, 2011 at 6:50 AM

    Wah…saya termasuk orang yang suka protes kalo diberi ujian oleh si dosen / guru yang sifatnya mendadak :DYa..karena itu, belajar kalo ada ujian *parah bener* :))

  2. June 17, 2011 at 11:40 AM

    setelah baca artikel ini..ternyata aku termasuk tipe yang belajar kalo ada ujian, hehehehee… slm kenal by pendatang baru..

  3. June 17, 2011 at 3:41 PM

    belajar tak seharusnya untuk nilai saja…belajar moral itu tiada dua nilainya…seandainya orang-orang mengerti…apa gunanya nilai tinggi tapi taka da isi kepalanya, apalagi tak ada isi hatinya

  4. June 17, 2011 at 7:47 PM

    niat hati sih menjadikan belajar itu sesuatu yg menyenangkan… tapi apa daya ternyata arus negatif lebih kuat,.. akhirnya ikut2an deh belajar klo ujian aja… udah gitu sks pula… heheh…haduuuh mudah2an generasi penerus nggak spt saya yah…

  5. June 20, 2011 at 11:06 PM

    ironisnya seperti itu sampai saat ini, biasanya mau semesteran bilang gini 'eh kamu enak belajar semalam' 'eh mana ada saya belajar, sedikitpun tidak nyentuh buku nih'.Kebanyakan seperti itu yang saya alami sebagai pelajar…

  1. No trackbacks yet.

Silahkan tulis komentar sahabat

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: