Home > opini > Antara Pemerintah dan Selera "Pasar"

Antara Pemerintah dan Selera "Pasar"

Beberapa waktu yang lalu saya (dan mungkin juga anda) menonton acara talk show Kick Andy yang membahas topik “film panas di era 80an”. Dalam acara tersebut ada beberapa pernyataan yang mengusik pikiran saya.
“Pada tahun 1980an Menteri Penerangan mentargetkan sedikitnya 200 film diproduksi dalam setahun. Dalam upaya mengejar target, film pun dibuat asal-asalan. Sebagian besar bertema seks dam horor.”

“ Waktu itu keadaan perfilman kita ya begitu. Film – film semacam itulah yang laku.” Ujar salah seorang pengamat film.

“Kami memang didikte oleh broker, peran broker sangat menentukan karena mereka mampu mencarikan penyandang modal untuk memproduksi sebuah film. Kami diminta untuk memproduksi film-film semacam itu karena film-film jenis itulah yang sedang laris.”kata salah seorang sutradara film yang hadir dalam acara tersebut.

Tentunya saya (dan mungkin juga anda) timbul beberapa pertanyaan dalam pikiran kita mendengar pernyataan – pernyataan tersebut. Berikut beberapa pikiran yang mengganjal di pikiran saya.
“Jika memang produser terpaksa memproduksi film – film seperti itu dikarenakan dikejar target pemerintah, apakah pemerintah waktu itu emang dengan begitu mudah meng-ACC beredarnya film – film tersebut? Tidakkah pemerintah berpikir bahwa beredarnya film – film tersebut bisa merusak moral bangsa? Atau pemerintah hanya memikirkan ego dan kebanggaan semu di mata dunia bahwa “ini nih Indonesia mampu memproduksi film dalam jumlah sekian selama setahun.”

“Jika emang produksi film mengikuti selera “pasar”. Maka siapakah sebenarnya yang dimaksud “pasar” tersebut? Bukankah yang dimaksud “pasar” itu ya para penonton bagi film-film tersebut, tak lain adalah masyarakat Indonesia pada waktu itu? Sebegitu rendahkah selera masyarakat waktu itu? Atau yang dimaksud dengan “pasar” adalah sesuatu yang lain?

“Lantas pada jaman sekarang kenapa masih banyak film dan sinetron yang “Naudzubillah” yang menjadi “racun” bagi masyarakat? Masihkah pemerintah “nggak mau tahu” dalam hal perusakan moral bangsa ini. Dan masihkah selera pasar bicara dalam memproduksian film dan sinetron zaman sekarang?” Siapakah sebenarnya yang dimaksud “pasar” tersebut?
Itulah beberapa pertanyaan yang mengganjal dalam pikiran saya. Ternyata banyak orang yang lebih mementingkan bisnis dan keuntungan pribadi daripada kepentingan bangsa. Televisi sudah menjadi tontonan sehari – hari anak – anak di negara ini. Kadang televisi bisa menjadi “guru” bagi para anak. Syukur kalau gurunya baik insya Allah anak jadi baik, tetapi kalau “guru”nya buruk anak bahkan bisa lebih buruk lagi. Hal ini diperparah jika orang tua sibuk dengan pekerjaannya masing – masing dan tak sempat mengawasi anaknya dan memberikan pengarahan kepada anaknya.
Sekian postingan kali ini semoga bermanfaat.
Salam
Mas Jier
Categories: opini
  1. June 20, 2011 at 1:40 AM

    sama mas,,,saya juga prihatin dengan kondisi pertelevisian sekarang ini, dengan kurangnya tontonan yang bersifat mendidik. Ditambah lagi dengan jam penayangannya yang begitu pas banget bisa meracuni anak2….semoga banyak pihak2 yang tanggap dengan kondisi yang terjadi sekarang ini.

  2. June 20, 2011 at 5:45 AM

    @mas mabruri : iya mas semoga segera ada tanggapan dan perubahan dari para pihak terkait.

  3. June 20, 2011 at 7:15 AM

    Ngomongin kekurangan tayangan televisi lokal emang gak ada habisnya….Semoga all parents yang baca artikel ini terinspirasi menyiapkan generasi yang merevolusi tayangan tv lokal

  4. June 20, 2011 at 8:42 AM

    ijin simak.

  5. June 20, 2011 at 9:19 AM

    kalo film lokal harusnya nyari sensasi dlu dengan sedikit kontroversial baru film tsb laris di pasaran.. Mungkin penonton merasa penasaran dgn film yg mo di tonton tapi bukan pada esensi film itu sendiri…

  6. June 20, 2011 at 1:31 PM

    Susah menyalahkan pemerintah kalau ideologi liberal alias kebebasan yang dijalankan negara, apalagi semenjak reformasi. Main larang-larang pakai UU resmi aja diprotes agar diubah UU nya. Apalagi maian larang ngawur…ntar gak jadi demokratis lagi katanya hehe

  7. Nia
    June 20, 2011 at 1:51 PM

    kebetulan aku ngga nonton kick andy pas yg episode itu…wah bener2 terlalu yach pemerintah…menghalalkan segala cara meskipun harus mengorbankan anak bangsa…..

  8. June 20, 2011 at 2:13 PM

    emang bangsa indonesianya sukanya liat film yang gitu sih mas. kalo ga rame peminatnya, sekarang ga bakalan lagi ada yang ngeproduksi filmfilm begitu.

  9. June 20, 2011 at 3:54 PM

    mungkin karena mereka masih saja mengikuti selera rendahan yang kata banyak orang selera seperti itulah yang laris…. ha ha ha

  10. June 20, 2011 at 4:45 PM

    Topik yang selalu memprihatinkan dan membuat sedih. Entah apa kriteria “selera pasar” yang digunakan, tapi 80% film Indonesia sangat mirip sinetron hingga tak terasa greget nonton film-nya. Pendapat pribadi, sih.Lebih jauh, Anak-anak saya terpaksa saya jauhkan dari TV karena doktrinasi yang luar biasa melalui iklan dan acara anak yang membahayakan dan jauh dari layak ditonton anak. Maaf, ini juga pendapat pribadi

  1. No trackbacks yet.

Silahkan tulis komentar sahabat

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: