Home > opini > Tiket kereta Api Termahal

Tiket kereta Api Termahal

Ngomong – ngomong soal liburan saya jadi teringat kenangan tanggal 11 januari 2011 lalu (eh kayak lagunya band Gigi). Waktu itulah saya membeli tiket kereta api termahal sepanjang hidupku. Bagaimana bisa disebut termahal? Berikut saya paparkan penjelasannya.
Sebuah tiket perjalanan bisa dibilang mahal emang relatif. Tiket perjalanan tersebut bisa dibilang mahal tergantung paling tidak pada dua hal :
Pertama, pelayanan dan fasilitas yang diberikan
Kedua, Jarak yang ditempuh

Nah jika diukur dengan kedua hal tersebut, maka anda bisa menilai apakah tiket yang saya beli ini termasuk mahal atau tidak. 
Saat itu saya mendapat jatah libur selama 4 hari. Maka sayapun bermaksud untyuk memanfaatkannya untuk pulang kampung ke Magelang. Sore hari saya datang ke Stasiun Padalarang Bandung. Seperti biasa saya naik KA Kahuripan. 
Kebutulan tiket jatah tempat duduk sudah habis makanya saya mendapat tiket “bebas” artinya kurang lebih bebas duduk dimana aja asal tidak ada yang menempati. Saat itu nggak tahu kenapa KA berangkat agak terlambat dari biasanya, yang mustinya jam 19.30 sudah berangkat ternyata jam 20.00 baru berangkat. Syukur ternyata walaupun tiket saya tidak tercantum nomor tempat duduk, saya tetep bisa duduk karena masih banyak yang kosong. 
Sampai di Stasiun berikutnya Stasiun Cimahi banyak banget penumpang yang naik. Saya ditegur oleh seseorang yang baru saja naik. Mas, situ tempat duduknya nomor berapa? Ini tempat duduk saya mas (katanya sambil memperlihatkan tiketnya). Sayapun “terpaksa” berdiri dan mencari tempat di dekat pintu karena saya cukup gerah dengan suasana kereta yang panas.
Kereta api kemudian berjalan kembali, pada Stasiun – Stasiun berikutnya yakni Stasiun Cimindi, Stasiun Kota Bandung, Stasiun Kiara Condong, penumpangnya terus saja bertambah dengan jumlah yang begitu banyak. Ketika di Stasiun Kiara Condong banyak penumpang yang memutuskan untuk menunda keberangkatannya di karenakan kereta sudah sangat penuh dan sangat sulit untuk bergerak (kondisi seperti ini biasanya sangat rawan terjadi tindak kejahatan).
Saya pikir itulah stasiun terakhir tempat penumpang yang naik. Ternyata perkiraan saya salah, di Stasiun berikutnya yakni Stasiun Cicalengka kereta kembali berhenti. Beberapa penumpang berusaha untuk naik, termasuk lewat pintu yang saya tempati. Seseorang bilang, “Mas kasih jalan donk, kita mau naik nih.” Saya bilang “ Maaf pak sudah penuh, susah untuk naik.” Tapi karena kasihan saya pun turun dan memberi jalan. Mereka pun naik ke dalam gerbong, kulihat ke sekeliling banyak sekali penumpang yang terlihat kecewa karena tidak bisa naik. Saya pun termasuk yang tidak bisa naik, karena setelah saya memberi jalan penumpang sudah sangat penuh sampai ke pintu, kalau saya memaksakan diri justru akan sangat berbahaya.
Ada beberapa pelajaran yang bisa saya ambil dari kejadian tersebut,
Kurangnya kepedulian petugas Kereta Api yang menjual tiket, mereka tidak memperhitungkan apakah kereta bisa menampung semua calon penumpang yang telah membeli tiket atau tidak. Mereka hanya berpikir untuk menjual sebanyak – banyaknya tiket.
Petugas kereta api tidak memikirkan kenyamanan damn keamanan para penumpang, dengan kondisi penuh seperti itu sangat rawan terjadi tindak kejahatan. 
Betapa miskinnya orang di negeri ini sampai – sampai begitu banyak orang berebut sarana transportasi yang hanya kelas ekonomi tersebut.
 Sungguh kejadian itu membuat saya sangat sedih. Bukan karena saya tidak jadi pulang ke kampung di Jawa Tengah tetapi memikirkan kondisi negeri ini yang dipenuhi begitu banyak orang yang hanya mementingkan diri sendiri.
Nah dari cerita di atas maka bisalah tiket yang saya beli bisa disebut mahal. Biasanya Padalarang – Cicalengka hanya membayar Rp. 2000 saat itu saya harus membayar Rp. 28.000 dan fasilitas serta kenyamanan yang diberikan juga seperti itu.
Categories: opini
  1. June 21, 2011 at 3:39 PM

    Turut berduka cita Mas Jier, atas nasib buruk yang menimpamu :)Tadi dari blog sahabat lain saya baca katanya harga tiket juga naik yah? Kalo pelayanannya seperti itu parah juga ya? Kapan ya Indonesia akan berubah? *merapal doa*

  2. June 21, 2011 at 7:34 PM

    terima kasih mbak,kalo pemimpinnya diganti mungkin indonesia baru akan berubah

  3. June 21, 2011 at 8:53 PM

    Itu sih sangat mahal lantaran mengalami kenaikan hingga beratus0ratus persen. Pelayanan gak naik untung pengen naik. Makin lama makin mirip rampok saja.

  4. ded
    June 21, 2011 at 9:15 PM

    Saya kutip kalimat ini : “Bukan karena saya tidak jadi pulang ke kampung di Jawa Tengah tetapi memikirkan kondisi negeri ini yang dipenuhi begitu banyak orang yang hanya mementingkan diri sendiri”.Alhamdulillah masih ada orang seperti Mas Jier yang memikirkan kondisi negeri saat ini……

  5. June 21, 2011 at 9:19 PM

    betul mas alamsebenarnya sih tiket buat nyampe je jogja tapi terpaksa turun karena sangat terlalu penuh

  6. June 21, 2011 at 9:41 PM

    waduh :O ckckc kelas ekonomi dengan alasan ekonomi berebut dengan cara yang ekonomis jadi berlaku hukum rimba juga yauntung Kak Masjier gg nekat naik ke atas gerbongnya ya

  7. June 21, 2011 at 10:08 PM

    kayaknya ada benarnya gan, soalnya udah tau keretanya nampungnya dikit malah jual tiket terus petugasnya..hehehe, salam kenal gan

  8. June 21, 2011 at 10:41 PM

    Weleh2 ngomong2 naek kereta aq dulu pernah ketinggaln xixixixJakarta Madiun bisnis 110ribu. lupa keretanya apa.AKhirnya bs nego ditukar ama ekonomi di Kereta makannya hehe.Tiket termahal juga ya xixixixi

  9. ceetrul
    June 22, 2011 at 7:18 AM

    wah wah wah,,.pedih nian nangsibmu nak,hehheheehmm,..heran juga ya,..liat kaya gitu malah yang dipusingkan kok menghalau mereka mereka yang naek diatas gerbong,jane ki fasilitas buat mempermudah ato mempersulit sih??huft,jadi ikut esmosi ni pagi2,heuh!

  10. June 23, 2011 at 10:33 AM

    @om ded : makasih om, sebenarnya banyak kok yang lebih peduli dibanding saya@mbak tiara : miris sekali memikirkan kondisi seperti itu@belajar komputer : sipp setuju@mbak tatty : wah pengalaman naik kereta nih@ceetrul : fasilitas bener2 kurang

  1. No trackbacks yet.

Silahkan tulis komentar sahabat

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: