Home > pengalaman, renungan > Essensi sebenarnya

Essensi sebenarnya

Saya ucapkan terima kasih kepada para sahabat yang telah berkenan membaca dan memberikan tanggapan dan komentar pada posting sebelumnya, terlebih bagi mereka yang telah mampu menemukan essensi sebenarnya dari tulisan tersebut. Tulisan tersebut merupakan salah satu wujud rasa terima kasihku, kekagumanku dan kebanggaanku kepada orang tua saya. Beliau senantiasa memberikan dukungan baik moril maupun materiil kepada saya sejak saya masih kecil dulu hingga sekarang.

Ketika karnaval tersebut, meskipun seadanya namun beliau berusaha memberikan yang terbaik bagi saya. Dan yang jauh lebih penting adalah kata – kata beliau ketika memberikan pengertian kepada saya, bahwa pekerjaan apapun di dunia ini asalkan halal merupakan pekerjaan yang mulia. Saya yang sempat minder “tampil” dengan baju seadanya tersebut jadi terlecut semangatnya.

Setelah saya besar, saya merasakan kebahagiaan yang mungkin tidak dirasakan oleh sebagian anak – anak yang lain. Ya, saya diberikan kebebasan dan kemerdekaan untuk menentukan jalan hidup saya. Tidak seperti orang tua lainnya yang ingin anaknya menjadi seperti dirinya, yang ingin anaknya mencapai obsesinya, yang ingin anaknya menuruti semua keinginan orang tuanya. Tidak, orang tua saya tidak melakukan yang seperti itu. Saya diberi kebebasan untuk memilih jalan hidup sesuai hobby dan keahlian saya. Ketika saya mohon doa restu dan memutuskan untuk menjadi seorang peternak dan memilih untuk bekerja mencari pengalaman di Bandung, beliau selalu mendukungku meskipun sebenarnya beliau ingin saya meneruskan usaha beliau jadi petani.

Pun ketika saya mohon doa restu untuk menjadi seorang blogger beliau juga selalu mendukungku.
Meskipun beliau tahu, saya ini tidak paham dunia komputer. Saya mendapat ilmu komputer dari pelajaran di SMK selama 2 jam dalam seminggu dan 1 komputer untuk 1 kelas.

Meskipun beliau tahu, saya ini orangnya gaptek. Saya pertama kali punya Hp bulan November 2006 (3 bulan setelah saya bekerja), saya mulai punya akun Email dan FB awal tahun 2010, dan mulai punya blog bulan juli 2010 (itupun sudah tak terurus). Ilmu saya tentang dunia internetpun masih sangat dangkal.

Meskipun beliau tahu, saya tidak punya banyak waktu dan tenaga. Saya bekerja dari pagi jam 7 hingga sore jam 5. Saya punya waktu untuk kegiatan blogging 3 hingga 6 jam dalam sehari. Kadang kala tenaga terkuras habis untuk bekerja karena saya hanyalah seorang karyawan biasa.

Meskipun beliau tahu, saya tidak punya banyak modal untuk bergelut di dunia internet.

Namun terlepas dari semua itu, saya senang beliau selalu percaya kepada saya. Beliau selalu berkata, “Ilmu bisa dipelajari, waktu dalam 24 jam bisa dibagi dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, datangnya rejeki kita harus percaya bahwa itu merupakan pemberian Allah SWT. Dia bisa mendatangkan rejeki dari arah yang tidak kita sangka-sangka.

Saya sendiri sering merasa malu jika saya tidak mampu memanfaatkan semua bentuk kepercayaan, kebebasan dan kemerdekaan yang diberikan oleh orang tua saya dengan sebaik – baiknya. Kadang saya semaunya sendiri dan menggunakan kepercayaan ini untuk hal-hal yang negatif. Padahal beliau memberikan kepercayaan tersebut agar saya merasa nyaman, tidak terkekang oleh obsesi dan keinginan orang tua dan saya mampu berkarya sesuai dengan apa yang saya senangi.

Mungkin hal yang sama juga dialami oleh bangsa ini (Bangsa Indonesia). Kita semua diberi kepercayaan bahwa bangsa ini mampu untuk mengatur dirinya sendiri. Karena itulah Yang Maha Kuasa menganugerahkan kemerdekaan bagi bangsa ini. Kemerdekaan, kebebasan dan kedaulatan untuk mengatur dirinya sendiri tanpa harus terjajah oleh bangsa lain. Memang kita akui bahwa bangsa ini masih harus banyak belajar, namun kita tetap harus selalu optimis bahwa bangsa ini pasti bisa. Tidak ada gunanya kita saling menyalahkan, yang jauh lebih penting adalah setiap individu dan masyarakat bansgsa ini berusaha untuk mengisi kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya. Kita harus optimis bahwa dengan terus belajar, bangsa ini insyaAllah mampu menuju ke arah yang lebih baik.

Mari kita renungkan sejenak apa yang telah kita perbuat selama ini, apa yang telah kita sumbangan untuk mengisi kemerdekaan Bangsa ini. Sudah 66 tahun kita merdeka, tapi mengapa nasib kita masih saja seperti ini. Bangsa kita bangsa yang kaya raya tapi mengapa rakyatnya banyak yang miskin. Sudahkah kita menyadari bahwa kita semua satu saudara, satu keturunan dari Nabi Adam as? Tidak sepantasnya kita saling menjatuhkan. Karena harta benda, pangkat, kekayaan dan kesenangan lainnya di dunia ini tidaklah ada yang abadi. Kelak kita akan dipanggil kembali ke hadapan yang Maha Kuasa untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatan kita selama di dunia ini. Untuk itu marilah kita berusaha untuk mengisi hidup ini dengan amal kebaikkan sebagai bekal kehidupan kita kelak.

Akhir kata saya ucapkan Dirgahayu ke-66 Republik Indonesia. Jayalah Indonesiaku.

  1. August 11, 2011 at 9:18 AM

    sukses selalu buat mas Jier….
    selagi ada usaha dan doa, insya Allah ada jalan dari Allah SWT…

  2. August 11, 2011 at 9:50 AM

    salam sahabat
    jadi tahu secara gambalng mas Puji nich esensinya,tapi berdasarkan realita juga memang agak berbalik arah sedikit dari yang sebenarnya xixixix
    lam kenal

  3. August 11, 2011 at 10:25 AM

    Akan jd renungan yg dalam ya mas… Bismillah, semoga sikap kita untuk mengisi kemerdekaan ini bisa dipertanggungjawabkan kelak. Aamiin..

  4. August 11, 2011 at 10:37 AM

    Hmm…renungan bagus,,saya juga sempat mikir apa yang te;ah saya perbuat untuk bangsa ini…saya berharap apa yang telah saya lakukan dibumi pertiwi ini bermanfaat,,

    MERDEKA !!!

  5. August 11, 2011 at 11:03 AM

    wah dalem banget om mas jier :O mirip sama puisi Kahlil Gibran esensinya😀

    http://bermimpimeraihsukses.blogspot.com/2011/03/mom-please-dont-force-me.html

  6. August 11, 2011 at 11:18 AM

    Lho apa yang telah kita perbuat selama ini ya mas
    kalau jauh berpikir hal tersebut, sepertinya saya tidak termasuk orang yang memiliki bakti untuk negeri ini

  7. August 11, 2011 at 8:26 PM

    Merinding mas bacanya😀
    Ah..kata2nya dalem banget deh😀
    Seneng ya punya ortu yang selalu mendukung kita🙂
    Hidup..Indonesiaku! Jayalah negeriku!🙂

  8. August 11, 2011 at 10:24 PM

    keran mas…
    penulisanna penuh penghayatan …

    salam…

  9. August 11, 2011 at 11:00 PM

    saya setuju dengan orang tua demokratis seperti itu mas Jier, sama seperti orang tua saya. semoga kita bisa memberikan yang terbaik untuk mereka, membuat mereka bangga menyebutkan nama kita di depan teman2nya.🙂

    dirgahayu juga mas.. MERDEKA!!

  10. iam
    August 12, 2011 at 5:06 AM

    Setuju mas jier😀 Saling membantu, dan berbuat amal baik :’)
    Jangan sampai menelantarkan saudara2 kita juga :’)

  1. No trackbacks yet.

Silahkan tulis komentar sahabat

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: